Lantaran Murahnya Harga LNG Harga Acuan Anjlok, Ekspor Batu Bara Semester I Turun 4,98%

Export batu bara Indonesia sepajang Januari-Juni 2019 turun 4, 98% sejalan melemahnya harga jual dan berlebihnya ketersediaan di pasar global. AJENG DINAR ULFIANA | KATADATA Kesibukan di tambang Batu bara legal di Desa Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (17/1) . Tubuh Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai export batu bara pada Januari-Juni 2019 sebesar US$ 11, 22 miliar, turun 4, 98% ketimbang periode yg sama pada tahun yang kemarin US$ 11, 81 juta.

Turunnya harga jual gara-gara ketersediaan yg berlebihan dikatakan berubah menjadi aspek pembawa turunnya export periode itu. BPS bahkan juga mencatat, pada Juni 2019 export batu bara drop sebesar 14, 42% berubah menjadi US$ 1, 7 miliar dari periode yg sama tahun sebelumya US$ 1, 99 miliar. (Baca : Analis : Turunnya Harga LNG Jadi Yang menimbulkan Merosotnya Harga Batu Bara) Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengemukakan penurunan nilai export itu diakibatkan oleh anjloknya harga batu bara, baik di global ataupun dalam negeri.

Penurunan itu pun didorong oleh berlebihnya ketersediaan di pasar global, terpenting sejak mulai Rusia serta Kolombia memasok batu baranya ke Asia. ” Kolombia, Rusia saat ini udah mulai masuk pasar Asia. Jadi harga turun, ” kata Hendra, terhadap Katadata. co. id, Selasa (16/7) . Harga Batu Bara Rujukan (HBA) mencatat mode penurunan sejak mulai tahun yang kemarin. Mengenai pada bulan ini HBA cuma lebih kurang US$ 71, 92 per ton, atau turun 13, 2% ketimbang Juni 2019 yg masih ada di kira-kira US$ 81, 48 per ton.

Artikel Lainnya : ukuran batu alam

Harga rujukan itu juga sekaligus sebagai yg paling rendah sejak mulai November 2016. HBA pernah naik sampai tembus US$ 100 per ton pada 2018, akan tetapi terus berangsur turun. Pada Januari 2019, HBA tersebut ada di level US$ 92, 41, setelah itu turun berubah menjadi US$ 91, 80 pada Februari, serta capai US$ 90, 57 pada Maret. Pada April HBA kembali tergelincir ke level US$ 88, 85 per ton. Akan tetapi, pada Mei 2019 HBA pernah naik tipis berubah menjadi US$ 89, 53 per ton.

Mengenai per Juni, HBA kembali turun berubah menjadi US$ 81, 49 per ton dengan penurunan bertambah tajam ke US$ 71, 92 per Juli 2019. Disamping itu, harga batu bara rujukan Newcastle pun alami penurunan harga. Dalam akhir 2018, harga batu bara dengan kalori tinggi ada di kira-kira US$ 100 dolar per ton, yg setelah itu terus alami kontraksi selama paruh pertama 2019. Sampai awal Juli, harga batubara rujukan Newcastle ada di kira-kira US$ 77 per ton. (

Analis Trimegah Sekuritas Sandro Sirait mengemukakan penurunan harga batu bara Newcastle diakibatkan oleh rendahnya permohonan dari negara dengan kepentingan batu bara kalori tinggi seperti Korea serta Jepang. Ke dua negara itu lebih menentukan menambah pemanfaatan gas alam cair (liquefied wajar gas/LNG) jadi kekuatan pembangkit listrik. Harga LNG sejak mulai awal tahun turun dari US$ 9 per Juta British Thermal Unit (mmbtu) berubah menjadi US$ 4, 5 mmbtu. Mengenai mengonsumsi batu bara buat kepentingan pembangkit di Korea serta Jepang tersebut lebih kurang 40%, dan 60% yang lain datang dari LNG.

” Permohonannya lumayan melemah, lantaran murahnya harga LNG, ” kata Sandro, terhadap Katadata. co. id, Selasa (9/7) . Dan, buat permohonan batu bara dari Tiongkok condong konstan. Bahkan juga berlangsung penambahan 5% pada Mei 2019 ketimbang periode yg sama pada tahun yang kemarin. Demikian pula buat batu bara Newcastle diproyeksikan sekian bulan kedepan harga dikit tambah baik di kira-kira US$ 88 per ton. ” Bila data impornya Tiongkok lima bulan paling akhir masih strong, year on year tambah tinggi, ” ujarnya.

Leave a Reply